Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih didirikan oleh seorang putra Betawi asli, Almarhum H. Nein, pada tahun 1958 silam. Keterampilannya dalam meracik bumbu nasi goreng yang kaya rempah sukses membuat banyak orang ketagihan sampai sekarang.
“Dulu sewaktu almarhum mulai jualan, enggak seramai sekarang,” jelas Soeroto kepada awak Beritagar.id.
Dia mengatakan bahwa H. Nein merintis dari nol secara perlahan sampai akhirnya besar seperti sekarang. Jumlah pengunjung yang terus bertambah, menginspirasi H. Nein untuk menambah cabang.
Sejauh ini, cabang resminya sudah tersebar seantero Jabodetabek. Informasi yang tertera pada spanduk menu makanan tertulis Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih tidak membuka cabang di luar kota.
“Sudah banyak cabang sekarang, ada di Jalan Sabang, Bintaro, Cinere, Blok M, dan Pamulang,” imbuhnya.
Soeroto yang bergabung mengurus operasional tempat makan tersebut sejak 1991 mengaku, jumlah pengunjung setiap hari tidak pernah sepi. Malah, semakin ramai saat akhir pekan.
Metode memesan di tempat makan yang sekarang dikelola oleh keturunan generasi ketiga H. Nein ini agak berbeda dari warung kakilima lainnya. Biasanya, Anda makan dulu, baru bayar.
Di sini pengunjung yang datang diharuskan untuk terlebih dulu memesan makanan, membayar, dan mencari tempat duduk sendiri. Selanjutnya, pelayan baru menghidangkan pesanan Anda.
Kala itu, kami memesan tiga menu, nasi goreng kambing seharga Rp41 ribu, nasi goreng sosis bakso seharga Rp41 ribu, dan sate kambing setengah porsi berisi empat tusuk seharga Rp30 ribu.
Variasi menu nasi goreng sosis bakso, menurut Soeroto, terbilang baru. Tujuannya menjaring lebih banyak konsumen, yakni anak-anak, dan orang lanjut usia dengan kondisi kesehatan tak bisa lagi mengonsumsi daging kambing.
“Banyak orang yang sudah tua masih suka datang, makanya kami dari lima tahun lalu, juga menyediakan nasi goreng ayam dan sosis bakso,” sebutnya.
Pengunjung yang datang ke tempat itu memang sangat variatif. Ada laki-laki dan perempuan dewasa, serta anak-anak.
Lebih kurang 10 menit, pesanan kami pun disuguhkan di atas meja. Satu hal yang menarik, tak nampak garpu dalam sajian itu, hanya sendok.
“Di sini enggak ada garpu,” ujar pelayan yang mengantarkan makanan saat kami bertanya mengenai ketersediaan peralatan makanan.
Bagi warga Bandung, gerai Es Goyobod yang sangat terkenal adalah yang berada di jalan Kliningan, yaitu “Es Goyobod Kliningan”. Es campur ini selalu laris di pasaran, sekitar 1000-2000 gelas mampu dijual habis per harinya. Itulah yang diutarakan Abah, salah satu pengelola Es Goyobod Kliningan. Ternyata kesegaran es goyobod tidak sesegar sejarahnya, banyak lika-liku yang harus dihadapi hingga akhirnya es goyobod dikenal sampai saat ini. Es ini diperkenalkan oleh Junaedi, seorang pedagang Sunda yang mengadu peruntungannya di Jakarta tahun 1930-an. Junaedi beranggapan, Kota Jakarta yang panas, menjual es adalah hal yang tepat. Dengan komposisi sederhana: es, goyobod, dan santan, Junaedi percaya diri menjajakan es campur ini ke masyarakat ibu kota. Namun harapan Junaedi tidak sesuai dengan realita. Bertahun-tahun menjual es goyobod, ternyata es campur ini tidak pas di lidah masyarakat Jakarta. Untunglah Junaedi memiliki anak bernama Usep Suryana. Dialah yang bertekad melanjutkan usa...
1.Cara membuat es kopyor agar-agar Ilustrasi es kopyor agar-agar Cookpad/Siswaty Elfin Bachtiar Untuk yang ingin menikmati es kopyor tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam, bisa dicoba resep cara membuat es kopyor sintetis dari agar-agar. Teksturnya cukup mirip dengan es kelapa kopyor asli dan mudah dibuat pula. Berikut ini resep lengkapnya. Bahan I: 450 ml santan kental instan 200 ml air 100 gram gula pasir 1 bungkus agar-agar plain Bahan II: 4 liter air matang dingin es batu secukupnya sirup cocopandan secukupnya Cara membuat es kopyor agar-agar: Campur agar-agar dengan air, aduk rata sampai tidak ada yang menggumpal, kemudian tuangkan santan. Masak agar-agar sambil diaduk sampai mendidih, kemudian angkat dan sisihkan. Masukkan es batu ke dalam air matang, tuang agar-agar ke atas bongkahan es batu sedikit demi sedikit. Setelah dituang langsung tarik ke bawah dengan garpu untuk membentuk serabut kopyor. Lakukan sampai seluruh agar-agar habis. Untuk penya...
Banyak yang bilang bahwa nama oyen diambil dari nama burung milik si pembuat untuk menamai es campur racikannya. Selanjutnya sang bapak tersebut mendapat julukan sebagai Pak Oyen. Untuk mengenal lebih jauh tentang es oyen, silahkan datang ke kedai kecil bernama Warung Pak Oyen yang menyebar di wilayah Bandung. Di warung tersebut ada semacam papan informasi yang menjelaskan bagaimana usaha es oyen dirintis dari awal sampai sekarang. Nama pe mbuatnya adalah Pak Haji Rahmat, Pak Oyen hanyalah julukan. Es oyen sudah ada sejak tahu 1954, awalnya dijajakan dengan berkeliling kampung namun setelah dikenal luas sekitar 1962 barulah dibuat kedai, salah satunya di Jl.Sukajadi 18. Buat anda yang berkunjung ke Bandung, tidak ada salahnya mampir untuk mencicipi es Oyen yang benar-benar ASLI. Tentu rasanya berbeda dan ada kebanggaan tersendiri. Saat ini bisnis es oyen tidak hanya ada di Bandung, bahkan sudah sampai ke luar Jawa Barat...
Komentar
Posting Komentar